TUHAN TEMPAT PERLINDUNGAN YANG TEGUH – 18 FEBRUARI 2020

Ia berkata: “Ya, TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku, tempat pelarianku, juruselamatku; Engkau menyelamatkan aku dari kekerasan.

(2 Samuel 22 : 2 – 3).

T U H A N ADALAH

TEMPAT PERLINDUNGAN

Y A N G  T E G U H

KHOTBAH : PS. FERDI GODJALI

GEMBALA CHOSEN GENERATION

IBADAH PA, 18 PEBRUARI 2020

=============

SHALOM !

Judul khotbah dalam pendalaman Alkitab di sore hari ini adalah “TUHAN TEMPAT PERLINDUNGAN YANG TEGUH”. Firman tentang hal ini dapat kita lihat dalam Kitab Mazmur yaitu perkataan dari Daud. Oleh sebab itu kita akan bahas perkataan Daud yang terdapat dalam Mazmur tersebut berikut ini.

Daud adalah raja Israel terbesar di mata TUHAN. Dia senantiasa bersandar kepada TUHAN dan hidupnya penuh dengan masalah. Oleh karena itu Daud jadi memahami siapa yang dapat dia andalkan dalam hidupnya.

Demikian pula halnya dengan kita, bila kita mau berkaca dari pengalaman Daud, semakin banyak serangan masalah menerpa kita dalam hidup ini, seharusnya kita semakin sadar siapakah yang dapat kita andalkan?

Sehingga di suatu ketika nanti, bila kita diperhadapkan pada suatu situasi dan kondisi dimana kita tidak bisa lagi mengandalkan siapapun, selain Tuhan.

  • Kalau saudara sudah hanya mengandalkan Tuhan, maka barulah saudara bisa mengalami lonjakan-lonjakan iman.
  • Tetapi janganlah menjadikan masalah sebagai batu sandungan.
  • Iblis memberi masalah sebagai batu sandungan, tetapi Tuhan mengijinkan masalah tersebut ada, agar kita mengalami lonjakan iman.

Tuhan menabur gandum, tetapi iblis merusakkannya dengan menabur lalang dan Tuhan tidak mengijinkan kita mencabut lalang tersebut, karena kalau lalangnya di cabut, maka gandumnya pun bisa ikut tercabut.

Matius 13 : 28-29

13:28 Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu?

13:29 Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu.

Musuh yang melakukannya, tetapi Tuhan tidak mengijinkan kita mencabut lalang itu karena gandum bisa ikut tercabut.

Tetapi ketika gandum dan lalang sama-sama bertumbuh, akan terlihat jelas yang mana yang lalang dan mana yang gandum, artinya kita akan tahu “yang mana buah dari kuasa gelap” dan “yang mana buah dari kuasa Tuhan”.

  • Tuhan melarang kita mencabut lalang itu dan mengijinkan lalang itu ada di tengah-tengah kita dengan tujuan untuk memproses dan membentuk kita serta untuk mengukur kualitas iman kita.
  • Sama seperti Daud yang menjadikan TUHAN sebagai Gunung batu dan kota Benteng pertahanannya, juga sebagai Perisai dan Tanduk keselamatan serta Menara yang tinggi melalui masalah demi masalah yang dia hadapi.

Melalui masalah demi masalah yang kita hadapi, kita menjadi tahu “betapa sia-sianya kekuatan otot dan otak manusia” yang sering kita pakai untuk menghadapi masalah.

  • Mengapa demikian? Jawabannya, “karena otak dan otot manusia, terbatas”.
  • Semakin kita paksakan mengandalkan otak dan otot, masalah kita bahkan akan semakin berlarut-larut dan hanya membuang-buang waktu kita saja.
  • Dengan demikian, kalau kita menghadapi masalah janganlah mengandalkan otot dan otak kita manusia, tetapi berdoalah karena hanya Tuhan yang bisa kita andalkan.

Masalah yang seharusnya selesai dalam satu minggu atau maximal dua minggu atau dua bulan saja, tetapi jika engkau menghadapinya dengan otot dan otakmu, masalahmu mungkin saja baru bisa selesai dalam kurun waktu empat puluh tahun ke depan, karena proses pembentukan dirimu tidak pernah selesai.

Pada saat Abraham berusia 75 tahun, TUHAN berkata kepadanya, “keturunanmu akan seperti pasir di laut atau seperti bintang di langit”.

  • Abraham menantikan janji TUHAN tersebut sampai dia berusia 100 tahun.
  • Selama 25 tahun, Abraham mengalami pembentukan “step by step” yang semakin hari semakin sempurna.

Demikian pula halnya kita sekalian, “kapan masalah kita bisa selesai” tergantung dari proses pembentukan “manusia Allah” di dalam kita.

  • Semakin cepat proses pembentukan manusia Allah itu di dalam kita, maka masalah kita juga semakin cepat selesai.
  • Oleh sebab itu kunci keberhasilan kita adalah “janganlah mengandalkan otak dan otot manusia” kita.

Terkadang iblis membuat kita terus focus pada masalah yang sedang kita hadapi sampai akhirnya kita kecewa kepada Tuhan dan lari meninggalkan dari Tuhan.

  • Tuhan berkata, “Janganlah jemu untuk berdoa dan berharap kepada-Ku”.
  • Masalah yang sering kita alami, “kita sudah berdoa, tetapi sepertinya tidak dijawab-jawab, masalah yang kita alami tidak ada perubahan; kondisi ini di-sebabkan “iblis berusaha bikin kita jemu untuk berharap kepada Tuhan”.

Sementara itu pada sisi yang lain, Tuhan sebenarnya sedang “melatih kita” agar kita semakin tangguh dan kuat di dalam Dia menghadapi masalah, sehingga kita memperoleh kemenangan melawan masalah kita (kejahatan iblis).

Perhatikan kisah Elia dibawah ini

1 Raja-raja 18 : 41-45

18:41 Kemudian berkatalah Elia kepada Ahab: “Pergilah, makanlah dan minumlah, sebab bunyi derau hujan sudah kedengaran.”

Elia berkata kepada Ahab, “setelah adanya kekeringan, akan ada hujan”.

18:42 Lalu Ahab pergi untuk makan dan minum. Tetapi Elia naik ke puncak gunung Karmel, lalu ia membungkuk ke tanah, dengan mukanya di antara kedua lututnya.

Elia sudah dengar dari TUHAN akan turun hujan, tetapi dia tetap berdoa sampai membungkuk ke tanah, artinya pergumulan-pergumulan semacam itu adalah sesuatu yang paling sulit dihadapi anak manusia, termasuk bagi kita semua.

  • Apalagi ketika kita sudah mendengar suara Tuhan, kita harus membuktikan bahwa suara itu benar suara Tuhan.
  • Jadi Elia membungkuk sedemikian rupa supaya hujan benar-benar turun, karena Elia sudah menyampaikannya ke Ahab.

18:43 Setelah itu ia berkata kepada bujangnya: “Naiklah ke atas, lihatlah ke arah laut.” Bujang itu naik ke atas, ia melihat dan berkata: “Tidak ada apa-apa.” Kata Elia: “Pergilah sekali lagi.” Demikianlah sampai tujuh kali.

Elia sudah mendengar suara TUHAN, Elia juga sudah membungkuk sampai ke tanah, tetapi dia periksa sampai enam kali dilangit belum juga ada tanda-tanda hujan akan turun.

Kita tahu Tuhan pembela kita dan kita bergumul pada Tuhan, tetapi sepertinya tidak ada jawaban apapun dan tidak ada tanda-tanda Tuhan berikan jalan keluar.

18:44 Pada ketujuh kalinya berkatalah bujang itu: “Wah, awan kecil sebesar telapak tangan timbul dari laut.” Lalu kata Elia: “Pergilah, katakan kepada Ahab: Pasang keretamu dan turunlah, jangan sampai engkau terhalang oleh hujan.”

Setelah dilihat lagi untuk ke tujuh kalinya, barulah timbul dari laut awan sebesar telapak tangan.

  • Begitu kita menghadapi masalah, daging kita maunya cepat selesai sampai kita terus mengamati masalah kita.
  • Semakin kita focus mengamati masalah, semakin lama prosesnya berjalan.
  • Tetapi jika semakin kita percaya dan tidak focus mengamati masalah kita, maka semakin cepat prosesnya selesai.
  • Awan yang timbul hanya sebesar telapak tangan, artinya sesuatu yang kecil dengan iman yang kuat, akan menjadi sesuatu yang besar.

Perhatikan baik-baik, sesuatu yang kecil yang kita anggap tidak berarti, ternyata bisa dipakai Tuhan untuk membuat perubahan dalam hidup kita.

18:45 Maka dalam sekejap mata langit menjadi kelam oleh awan badai, lalu turunlah hujan yang lebat. Ahab naik kereta lalu pergi ke Yizreel.

Hal seperti ini, juga terjadi pada “Naaman yang harus merendam dirinya sebanyak tujuh kali”, itu artinya “doa yang bertubi-tubi” dan jangan pernah berhenti berdoa sebelum masalahmu selesai.

  • Kitapun sering mengalami bahwa walaupun kita sudah berdoa berkali-kali, tetapi masalah kita tidak selesai juga.
  • Jangan kecewa, karena Tuhan mau kita terus berdoa dan jangan jemu-jemu berdoa.

Contoh Alkitabiah tentang hal ini, yaitu ketika Yesus memberi satu ilustrasi seorang hakim yang lalim.

  • Waktu ada orang yang datang meminta pertolongan, berkali-kali dia datang ke hakim lalim tersebut walaupun telah berkali-kali dia ditolak.
  • Akhirnya hakim itu meluluskan permintaannya.

Berapa banyak dari kita yang langsung menyerah ketika tidak melihat jalan keluar?

  • Masalahnya kalau saudara berkata, “tidak mungkin ada jalan keluar”, maka benar-benar tidak ada jalan keluar sampai kapanpun.
  • Kalau saudara berkata, “akan terjadi mujizat hari ini”, maka percayalah mujizat benar-benar akan terjadi.
  • Tetapi persyaratannya, “mintalah sesuai dengan kehendak Tuhan”.

Permintaan yang tidak sesuai kehendak Tuhan adalah permintaan yang salah, sebab Yakobus berkata “Jika kamu meminta, mintalah sesuai dengan kehendak Tuhan, jangan dihabiskan untuk kepentingan diri sendiri”.

  • Karenanya, mintalah apa yang sesuai dengan isi hati Tuhan.
  • Oleh sebab itu, bila ada kemauan Tuhan dan ada kemauan manusia, maka kondisi inilah yang harus dipersatukan.
  • Agar permintaan kita “bukanlah permintaan daging kita”, tetapi permintaan roh kita yang akan memuliakan Allah.

2 Raja-raja 5 : 10

5:10 Elisa menyuruh seorang suruhan kepadanya mengatakan: “Pergilah mandi tujuh kali dalam sungai Yordan, maka tubuhmu akan pulih kembali, sehingga engkau menjadi tahir.”

Hal ini berbicara tentang “ketaatan dan doa” yang bertubi-tubi. Sayangnya, banyak orang Kristen (bahkan para hamba Tuhan) yang salah menafsirkan firman ini, yang mengartikan-nya “harus mentahirkan diri sebanyak tujuh kali”. Sebenarnya, tidak ada hubungan-nya dengan pentahiran.

Oleh sebab itu jangan serta-merta menafsirkan firman Tuhan sesuai dengan apa yang tertulis (harfiah) karena penafsirannya tidak semuanya selalu seperti itu, tetapi untuk ayat ini harus ditafsirkan dengan apa yang tersirat (alegoris).

  • Iblis senang sekali membuat iman kita goyah, dengan cara memutar-balik-kan kebenaran firman Tuhan, “agar kita putus asa karena doa kita seolah-olah tidak dijawab oleh Tuhan”.
  • Padahal doa kita yang belum dijawab oleh Tuhan, sebenarnya karena Tuhan “sedang memproses iman kita agar kuat terlebih dahulu”, itulah sebabnya Tuhan tidak langsung menjawab doa kita tersebut.
  • Tuhan tidak langsung menjawab doa kita karena Dia mengijinkan kita terus berdoa sampai kita kuat, karena iblis senang sekali ketika kita lemah dan putus asa.

Banyak orang yang menyerah kalah dan stop berdoa karena doanya yang menurut dia sudah bertubi-tubi, tetapi belum juga dijawab Tuhan.

  • Misalnya, tanggal 30 Juli 2019 Tuhan mau menjawab doa saudara, tetapi sampai tanggal 20 Juli 2019 doa saudara belum juga Tuhan jawab, sehingga saudara putus asa dan menyerah kalah, kemudian stop berdoa.
  • Akibatnya doa saudara benar-benar tidak Tuhan jawab, dan kondisi seperti inilah yang menyenangkan iblis karena saudara sudah kalah berperang.

Banyak orang menyerah di tengah perjalanan, karena mereka pikir jalan mereka sudah tertutup, sehingga iblis dan anak buahnya bertepuk tangan dengan meriah.

  • Sebenarnya Tuhan memberikan kita kesempatan emas untuk mendapatkan jawaban doa kita, tetapi kita tidak sabar.
  • Semakin kuat kita merasakan jalan kita tertutup, sebenarnya akan semakin besar kuasa Tuhan di nyatakan dalam hidup saudara.
  • Tuhan rindu kita anak-anak-Nya “percaya dan menaruh pengharapan” hanya kepada Dia.

2 Samuel 22 : 1-3

22:1 Daud mengatakan perkataan nyanyian ini kepada TUHAN pada waktu TUHAN telah melepaskan dia dari cengkeraman semua musuhnya dan dari cengkeraman Saul.

22:2 Ia berkata: “Ya, TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku,

Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku

22:3 Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku, tempat pelarianku, juruselamatku; Engkau menyelamatkan aku dari kekerasan.

Dalam ayat-ayat tersebut diatas dengan tegas Daud mengatakan, bahwa TUHAN bagi Daud adalah “Gunung batu-ku, Kota Bentengku, Perisai-ku, Tanduk Keselamatan dan Perlindunganku, dan Menara yang Tinggi.

Pernyataan Daud itu luar biasa dan perkataan Daud inilah yang akan kita bahas satu persatu berikut ini.

I. TUHAN ADALAH “GUNUNG BATU” KITA

Apakah yang dimaksudkan dengan “Gunung Batu” dalam pernyataan Daud ini?

  • Gunung batu adalah tempat yang kuat dan teguh.
  • Gunung batu juga berarti kuasa dan kekuatan Tuhan yang sempurna.
  • Gunung batu bukan buatan tangan manusia, tetapi buatan tangan Tuhan.

Kita menjadikan Tuhan sebagai Gunung Batu kita, artinya kita tidak mengandalkan kekuatan otot dan otak kita lagi, tetapi sepenuhnya sudah mengandalkan Tuhan.

  • Kita juga tidak lagi mengandalkan dunia, tetapi sepenuhnya mengandalkan Tuhan.
  • Gunung batu berarti kuasa Tuhan atau perlindungan Tuhan.
  • Kita harus mempercayai kuasa-Nya jauh diatas kuasa manapun.

Karena Tuhan telah menjadi Gunung Batu kita, berarti kita tidak lagi mengandalkan kekuatan diri kita sendiri, tidak lagi mengandalkan kekuatan dunia dan tidak lagi mengandalkan kekuatan manusia.

  • Juga berarti kita tidak kuatir dengan apapun, karena Dia adalah Tuhan yang kuat dan penuh kuasa, sehingga Dia akan melindungi kita dengan sempurna.
  • Semakin tertutup jalan kita, semakin besar kuasa Tuhan dinyatakan.
  • Semakin tertutup jalan kita, semakin besar terobosan terjadi karena untuk menerobos dibutuhkan kuasa atau kekuatan adikodrati.

Misalnya saya mengunci pintu ini karena bila pintunya terbuka, orang bebas keluar masuk melalui pintu ini, tetapi bila pintu terkunci kita membutuhkan kekuatan besar untuk membuka pintu tersebut dengan mendorongnya.

  • Jadi semakin tertutup jalan keluarnya, semakin besar kekuatan Tuhan untuk menerobosnya.
  • Kita telah lelah terus menerus menghadapi jalan tertutup dan sudah berdoa bertahun-tahun tetapi hidup begini-begini saja, tidak ada jalan keluarnya.
  • Bila saudara sedang menghadapi situasi seperti ini, jangan pernah menyerah, karena menyerah bukanlah solusi yang benar, sebaliknya telah kalah total.

Bila kita “berserah penuh kepada Tuhan” itulah yang disebut solusi.

  • Serahkan semuanya kepada Tuhan karena hanya Dia lah yang ahli mencari jalan keluar bagi kita.
  • Tidak akan ada jalan buntu bagi kita bila kita tetap hidup bersama Tuhan.
  • Kalau kita berkata, “Tuhan, Engkau gunung batuku” berarti kita tidak lagi mengandalkan kekuatan diri kita sendiri atau siapapun, tetapi murni sudah mengandalkan kekuatan Tuhan.

Apakah yang dimaksudkan dengan Gunung Batu?

  1. Gunung batu berarti “Tempat Persembunyian

1 Samuel 13 : 6

13:6 Ketika dilihat orang-orang Israel, bahwa mereka terjepit — sebab rakyat memang terdesak — maka larilah rakyat bersembunyi di gua, keluk batu, bukit batu, liang batu dan perigi;

13:7 malah ada orang Ibrani yang menyeberangi arungan sungai Yordan menuju tanah Gad dan Gilead, sedang Saul masih di Gilgal dan seluruh rakyat mengikutinya dengan gemetar.

13:8 Ia menunggu tujuh hari lamanya sampai waktu yang ditentukan Samuel. Tetapi ketika Samuel tidak datang ke Gilgal, mulailah rakyat itu berserak-serak meninggalkan dia.

Sewaktu Saul bersembunyi di keluk batu atau gua batu sebenarnya dia aman, tetapi karena di intimidasi selama tujuh hari membuat dia merasa tidak nyaman.

  • Saat saudara bermasalah, lalu berlindung pada Tuhan dan menjadikan Tuhan sebagai Gunung batu saudara dan berserah pada Tuhan, maka saudara pun sudah aman dari segala macam malapetaka.
  • Yang membuat tidak aman adalah intimidasi iblis, yang membuat otak dan ototmu bekerja, matamu mulai memandang masalah yang bertambah besar, maka kondisi itulah yang membuat engkau tidak aman.
  • Ketika sudah terintimidasi, engkau mulai mengandalkan dirimu sendiri dan mengandalkan apa yang kamu bisa, inilah yang membuat Saul tertolak.

Jadi, yang membuat kita tertolak, adalah ketika otak dan otot kita mulai bekerja dan kita merespon intimidasi kuasa kegelapan, sehingga kita mengandalkan otak dan otot kita.

  • Ingatlah! Ketika saudara mulai terintimidasi, mengandalkan diri sendiri dan otak dan otot, serta mulai mengandalkan manusia, hati siapakah yang telah engkau sakiti?  Hati Tuhan.
  • Padahal saudara sudah berkata, “Tuhanlah gunung batuku”, tetapi ketika engkau mengandalkan otak dan ototmu, Tuhan berkata padamu, “Engkau berdusta, karena nyatanya engkau tidak menjadikan-Ku Gunung Batu mu”.
  • Nyatanya saudara mulai memakai kekuatan diri sendiri, mulai berpikir siapa yang bisa menolongmu dan darimana datangnya pertolongan bagimu.

Gunung batu atau celah batu atau Gua batu fungsinya seperti “bunker” (tempat ber-lindung/bersembunyi), permasalahannya kita tidak percaya kepada Gunung Batu kita.

  • Sebenarnya Tuhan membawa kita ke Gunung batu, di diamkan selama tujuh hari agar kita aman, sehingga musuh tidak bisa menyerang kita.
  • Berapa banyak dari kita ketika bermasalah, mau bersembunyi dalam Tuhan?

Ingatlah! Begitu banyak masalah yang kita hadapi selama kita hidup di dunia ini muncul ke permukaan dan kita cenderung mengatasinya dengan cara memakai kekuatan kita sendiri.

  • Berhati-hatilah jika saudara masih memakai kekuatan saudara.
  • Ketika bermasalah, tindakan kita yang pertama adalah menjadikan Tuhan sebagai Gunung Batu kita, yaitu tempat persembunyian kita.

Musuh tidak tahu umat Israel bersembunyi di gunung batu, tetapi roh jahat bisa menyerang pikiran umat Israel melalui intimidasi sehingga mereka ketakutan dan keluar dari gunung batu itu dan melarikan diri dari tempat persembunyian mereka.

  • Itulah yang dilakukan kuasa gelap “agar Saul melakukan sendiri prosesi korban bakaran”, yang bukan merupakan tugas Saul.
  • Oleh sebab itu, kita lakukan apa yang menjadi bagian kita, tetapi serahkan kepada Tuhan apa yang menjadi bagian Tuhan.

Kita tidak boleh melakukan apa yang menjadi bagian Tuhan.

  • Bagian kita adalah memuliakan Tuhan dan meninggikan Tuhan serta mem-percayakan segala sesuatunya pada Tuhan.
  • Bagian Tuhan adalah membuat terobosan, membuat jalan keluar, membuat Taman Tuhan yang di ubah dari padang belantara.

2. Gunung Batu berarti “Tempat Pertobatan

Mazmur 40 : 3

40:3 Ia mengangkat aku dari lobang kebinasaan, dari lumpur rawa; Ia menempatkan kakiku di atas bukit batu, menetapkan langkahku,

Gunung batu adalah tempat dimana kita “diangkat dari kubangan lumpur kotoran”.

  • Kita di angkat dari kehidupan dosa dan dibawa naik ke Gunung batu Tuhan, artinya kita semua dilepaskan dari dosa dan mendapatkan perlindungan.
  • Jadi gunung batu disini artinya “Tempat Pertobatan”.
  • Kalau saudara berkata, “Tuhan adalah gunung batuku”, tetapi jika kita tidak pernah mau bertobat dan terus hidup dalam lumpur dosa, maka ucapan kita itu hanyalah suatu kebohongan dan kemunafikan.
  • Kalau kita berkata, “Tuhan gunung batuku”, berarti kita harus meninggalkan cara hidup kita yang lama.

Mazmur 19 : 15

19:15 Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya TUHAN, gunung batuku dan penebusku.

Siapa yang menganggap Tuhan sebagai Sang Penebus? Kita ditebus dari dosa.

Berarti kalau saudara naik ke gunung Tuhan, saudara mengalami penebusan.

Jadi, arti dari “Gunung batu” yang ke-2, adalah “Tempat Pertobatan”.

Dengan demikian, kalau saudara telah menjadikan Tuhan sebagai “Gunung batu” saudara, maka saudara harus mau bertobat.

Dan kalau saudara berkata Tuhan adalah “Gunung Batu” ku, maka saudara tidak akan pernah mengandalkan kekuatan diri sendiri lagi.

3. Gunung Batu berarti “Tempat Keselamatan

Gunung batu juga berarti Tempat Keselamatan.

Hakim-hakim 20 : 44-47

20:44 Dari bani Benyamin ada tewas delapan belas ribu orang, semuanya orang-orang gagah perkasa.

Bani Benyamin dikalahkan dan yang tewas ada delapan belas ribu orang prajurit.

20:45 Yang lain berpaling lari ke padang gurun, ke bukit batu Rimon. Tetapi di jalan-jalan raya masih diadakan penyabitan susulan di antara mereka: lima ribu orang; mereka diburu sampai ke Gideom dan dipukul mati dua ribu orang dari mereka.

20:46 Maka yang tewas dari suku Benyamin pada hari itu seluruhnya berjumlah dua puluh lima ribu orang yang bersenjatakan pedang, semuanya orang-orang gagah perkasa.

Orang gagah perkasa dan atau orang-orang yang hebat Israel sekalipun, bisa dibantai sedemikian rupa. Oleh karena itu, kita tidak boleh mengandalkan apapun selain Tuhan.

  • Banyak orang mengandalkan kepintarannya, mengandalkan otaknya karena lulusan dari universitas atau sekolah tinggi ternama.
  • Suatu hari engkau akan dihadapkan pada masalah yang tidak bisa engkau selesaikan memakai otakmu sama sekali karena Tuhan mau membuktikan engkau terbatas dan Tuhan tidak terbatas.
  • Tuhan mau engkau mengandalkan Dia yang tidak terbatas itu.

20:47 Tetapi enam ratus orang berpaling lari ke padang gurun, ke bukit batu Rimon, dan tinggal empat bulan lamanya di bukit batu itu.

Ada enam ratus orang yang selamat. Mereka selamat karena tetap tinggal di bukit batu, jadi arti dari “Gunung batu” yang ke-3, adalah “Tempat Keselamatan” kita.

  • Meskipun dikanan-kirimu dibantai habis, jika saudara lari ke Gunung batu maka saudara akan mendapatkan keselamatan itu.
  • Selama saudara tetap berada di Gunung batu itu, saudara pasti selamat.
  • Apapun masalah saudara selama saudara berada di dalam Gunung batu pasti ada perlindungan, pertobatan dan keselamatan.

Oleh sebab itu percayalah bahwa Dia adalah “Gunung Batu” saudara.

II. TUHAN ADALAH “BENTENG” KITA

Benteng merupakan tempat pertahanan, dengan tujuan agar roh jahat tidak dapat menyerang kita dan kalaupun diserang, kita tidak terkalahkan. Tuhan mau kita menjadikan Dia sebagai “Benteng Pertahanan” kita. Orang benar terus bersinar sampai rembang tengah hari dan bila jatuh tidak pernah sampai jatuh tergeletak.

Kalau saudara menjadikan Tuhan sebagai Benteng Pertahanan saudara, maka Tuhan tidak akan pernah membiarkan saudara sampai jatuh tergeletak.

  • Seribu kali saudara jatuh dalam dosa, dua ribu kali Tuhan bisa membangkit-kan saudara kembali.
  • Tuhan hanya berkata “Ayo semangat, bangkitlah dan jangan terpuruk lagi”.
  • Banyak orang percaya lebih memilih terpuruk, jatuh dan mengasihani diri sendiri, tetapi Tuhan lebih senang kita bangkit, bangun dan menang.

Benteng merupakan :

1. Benteng merupakan “Tempat Pertahanan” Kita

Benteng merupakan tempat pertahanan terhadap serangan musuh, sehingga roh-roh jahat tidak bisa memasuki kita dan tidak bisa mengalahkan kita.

Yeremia 15 : 20

15:20 Terhadap bangsa ini Aku akan membuat engkau sebagai tembok berkubu dari tembaga; mereka akan memerangi engkau, tetapi tidak akan mengalahkan engkau, sebab Aku menyertai engkau untuk menyelamatkan dan melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN.

Kita tetap berperang, tetapi kita tidak dapat dikalahkan oleh musuh kalau kita menjadikan Tuhan sebagai Benteng Pertahanan kita, oleh karena itu :

  • Maukah kita menjadikan Tuhan sebagai Benteng kita?
  • Maukah kita menjadikan Tuhan sebagai Pertahanan kita?

2. Benteng merupakan “Kemuliaan” Kita

Benteng merupakan tanda kemegahan, sehingga ketika kita melihat Benteng kita, pasti kita melihat kemegahan Benteng kita itu.

  • Kalau saudara menjadikan TUHAN Yang Tinggi dan Yang Maha Kuasa sebagai Benteng, berarti saudara menjadikan Tuhan kemuliaan hidup saudara.
  • Jadi benteng sebagai tanda kemegahan dan kemuliaan artinya kitalah orang yang memuliakan Tuhan dalam hidup kita seumur hidup kita dan menjadikan Tuhan satu-satunya tempat yang ter-aman.

Dengan  saudara bisa berkata, “Tuhan, aku muliakan Engkau dalam setiap waktu di hidupku”.

3. Benteng merupakan “Pilihan Hidup” Kita

Benteng pertahanan merupakan buatan tangan manusia, artinya pilihan, apakah kita mau masuk kedalam benteng atau merasa lebih nyaman tetap di luar benteng.

Apakah saudara mau memuliakan Tuhan atau memuliakan diri sendiri, semuanya itu adalah “pilihan” saudara.

Roma 8 : 14

8:14 Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.

Siapapun yang dipimpin Roh Allah atau siapapun yang berjalan dalam Roh, barulah dia dapat disebut anak Allah.

Roma 8 : 18

8:18 Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.

Konsekwensi sebagai seorang anak Allah.

  1. Pertama : Berjalan dalam Roh”.

Walaupun dalam kekristenan kita senantiasa harus berjalan dalam Roh, “tidak bisa tidak” kita pasti akan mengalami penderitaan atau mengalami masalah dalam hidup ini silih berganti.

2. Kedua : “Penderitaan adalah merupakan bagian dari kehidupan”.

Sehingga Paulus berkata, “Pencobaan yang kamu alami adalah pencobaan biasa”, tetapi sebagai anak Tuhan kita harus selalu waspada agar kita jangan sampai jatuh di dalam pencobaan.

Sebagai anak Tuhan harus menang di dalam pencobaan, oleh sebab itu dalam Doa Bapa Kami dikatakan “Jangan biarkan kami jatuh ke dalam pencobaan”.

  • Pencobaan akan selalu ada dalam hidup kita, tetapi jangan sampai kita jatuh di dalam pencobaan itu.
  • Meskipun kita kaya raya, tetapi penderitaan tidak bisa kita hindari.

Roma 8 : 31

8:31 Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?

Bila kita berjalan dalam Roh, walaupun kita tetap mengalami masalah silih ber-ganti, tetapi percayalah Tuhan selalu ada di pihak kita.

  • Jika Tuhan di pihak kita, kita tidak bisa dikalahkan oleh masalah atau roh-roh jahat apapun.
  • Kita pasti menang, bahkan lebih dari pemenang.

Rom 8 : 36

8:36 Seperti ada tertulis: “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.”

Untuk apa Tuhan dipihak kita, jika kita tidak mengalami masalah, justru dengan adanya masalah Tuhan ada di pihak kita karena Tuhan tahu kita tidak bisa atasi.

  • Tuhan menyertai kita saat ada masalah dengan satu tujuan agar kita menjadi pemenang.
  • Bila kita berkata “aku anak Allah”, berarti kita harus berjalan dalam Roh.

Ketika kita berjalan dalam Roh, kita pasti mengalami masalah yang merupakan bagian dari kehidupan manusia.

3. Ketiga : “Percayalah, Tuhan ada di pihak kita”.

8:37 Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.

Karena Dia mengasihi kita dan kita mau berjalan dalam kasih-Nya, barulah Tuhan memberi kita kemenangan bahkan lebih dari pemenang.

  • Maukah saudara menjadikan Tuhan sebagai Benteng di hidup saudara?
  • Maukah saudara benar-benar memuliakan Tuhan dalam hidup saudara?
  • Maukah saudara memuliakan Tuhan di setiap langkah kehidupan saudara, sehingga Tuhan berkenan menjadikan saudara lebih dari pemenang?

III. TUHAN ADALAH “PERISAI” KITA

Perisai selalu berhubungan dengan peperangan, karenanya untuk apa saudara membawa perisai jika saudara tidak berperang. Kalau kita telah sadar bahwa kita diutus oleh Tuhan ke dunia ini, berarti saudara dan saya harus berperang.

  • Mungkin saudara akan bertanya, bagaimana caranya saudara berperang dan menang, sementara saudara tidak tahu caranya berperang?
  • Jangan takut, Tuhan akan mengajari kita berperang, Tuhan akan menyertai kita dan Tuhan akan memberi kita kemenangan.

Itulah sebabnya, kita harus membawa perisai (tameng) kemanapun kita pergi, dan

perisai (tameng) yang dimaksud adalah “iman” kita.

  • Kita percaya “Tuhan adalah perisai” kita, oleh sebab itu roh jahat tidak akan bisa lagi menembus perisai kita itu.
  • Maksudnya, Tuhan memberi kita iman dan iman menjadi penangkal atas semua serangan musuh.
  • Ingatlah! Iblis memanah kita dengan “panah api”, bukannya dengan panah yang biasa-biasa saja.

Kalau terkena panah api, api akan membakar seluruh tubuhmu dan engkau akan mati, artinya kalau terkena panah api iblis, maka “saudara akan mati rohani dan dibakar di kekekalan” dalam kehidupan yang akan datang.

Oleh sebab itu dibutuhkan perisai dan perisai identic dengan peperangan, artinya kehidupan kekristenan saudara bukan kehidupan yang santai, tetapi kehidupan kekristenan yang berperang.

  • Kalau saudara mengaku sebagai orang beriman, berarti saudara merupakan orang Kristen yang berperang.
  • Kalau saudara orang beriman tetapi hidupmu santai dan hidup suka-suka, maka saudara bukanlah orang Kristen yang siap berperang.

Ibrani 12 : 2

12:2 Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.

Yesus memimpin kita dan membawa kita kepada iman, kita masuk ke dalam iman itu dan membawa iman kita itu sampai kepada kesempurnaan.

  • Bagaimana caranya iman kita dibawa sampai sempurna kalau saudara tidak menghadapi masalah demi masalah atau peperangan demi peperangan?
  • Jika saudara mau sempurna, janganlah hidup santai tetapi harus berperang.
  • Tanpa berperang saudara tidak bisa menjadi sempurna.

Dengan mengabaikan kehinaan, kita tekun memikul salib ganti sukacita, artinya salib adalah sukacita bagi orang Kristen, tetapi kehinaan bagi orang dunia.

  • Salib bagi orang dunia merupakan kebodohan, tapi bagi kita salib merupakan kemuliaan kekal.
  • Iman kita dibawa Tuhan sampai pada kesempurnaan.
  • Tuhan memberi kita iman dan iman digunakan sebagai penangkal terhadap serangan kuasa gelap.

Efesus 6 : 16

6:16 dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat,

Ingat! Iblis menyerang kita dengan panah berapi.

Iman berasal dari Tuhan, tetapi iman harus digunakan dengan tepat.

  • Karena iman yang Tuhan berikan, bukan sekedar untuk klaim janji Tuhan.
  • Karena iman yang Tuhan berikan kepada kita, supaya kita berjalan dalam kebenaran dan bersekutu dengan Tuhan, sampai akhirnya kita siap mati bersama dengan Kristus Yesus.

IV. TUHAN ADALAH “TANDUK KESELAMATAN DAN PERLINDUNGAN

PADA 4 SUDUT “MEZBAH KORBAN BAKARAN” TERDAPAT TANDUK

Ke-empat Tanduk ini dilumuri oleh darah korban persembahan, yang bisa diartikan darah Yesus.

  • Tanduk-tanduk ini terarah kepada empat penjuru bumi, artinya keselamatan harus sampai pada ke-4 penjuru bumi.
  • Siapapun yang memegang tanduk itu diselamatkan.
  • Tetapi bagaimana dengan nasib Yoab yang juga memegang tanduk mezbah?

1 Raja-raja 2 : 28-33

2:28 Ketika kabar itu sampai kepada Yoab — memang Yoab telah memihak kepada Adonia, sekalipun ia tidak memihak kepada Absalom — maka larilah Yoab ke kemah TUHAN, lalu memegang tanduk-tanduk mezbah.

Yoab lari ke kemah Tuhan dan memegang tanduk-tanduk mezbah. Seharusnya Yoab selamat karena memegang tanduk mezbah.

2:29 Kemudian diberitahukanlah kepada Salomo, bahwa Yoab sudah lari ke kemah TUHAN, dan telah ada di samping mezbah. Lalu Salomo menyuruh Benaya bin Yoyada: “Pergilah, pancung dia.”

Tetapi Salomo tetap memancung Yoab, karena Yoab sudah berpihak kepada Adonia. Bila kita percaya Yesus dan sudah melayani Dia, tetapi hidup semena-mena maka engkau tidak akan bisa selamat bahkan bisa terhilang.

Pegang tanduk itu bukan hanya ketika nyawamu di ujung tanduk, tetapi engkau harus memegang tanduk itu setiap hari, supaya engkau akan selamat.

2:30 Benaya masuk ke dalam kemah TUHAN serta berkata kepadanya: “Beginilah kata raja: Keluarlah.” Jawabnya: “Tidak, sebab di sinilah aku mau mati.” Lalu Benaya menyampaikan jawab itu kepada raja, katanya: “Beginilah kata Yoab dan beginilah jawabnya kepadaku.”

Yoab yang minta dipenggal di depan tanduk dari Mezbah Korban Bakaran.

2:31 Kata raja kepadanya: “Perbuatlah seperti yang dikatakannya; pancunglah dia dan kuburkanlah dia; dengan demikian engkau menjauhkan dari padaku dan dari pada kaumku noda darah yang ditumpahkan Yoab dengan tidak beralasan.

2:32 Dan TUHAN akan menanggungkan darahnya kepadanya sendiri, karena ia telah membunuh dua orang yang lebih benar dan lebih baik dari padanya. Ia membunuh mereka dengan pedang, dengan tidak diketahui ayahku Daud, yaitu Abner bin Ner, panglima Israel, dan Amasa bin Yeter, panglima Yehuda.

Terkadang tanpa kita sadari kita sering membunuh orang dengan cara bergosip atau menjelekkan orang sehingga imannya mati, berarti kita sudah membunuh dia.

  • Mulai hari ini, kita jangan pernah melakukan hal itu lagi.
  • Yoab telah membunuh Abner, karena Yoab merasa dirinya benar.
  • Kita pun sering merasa diri kita yang selalu benar, lalu menghakimi orang.

Tuhan tidak melihat kebenaran menurut cara pandang kita, tetapi menurut cara pandang-Nya sendiri.

  • Kalau kita merasa benar dan kita menjelek-jelekkan orang lain, itu sama saja kita sedang “membunuh” orang itu.
  • Sadarlah, ketika kita “membunuh” orang, itu sama artinya seperti Yoab yang memegang tanduk Mezbah Korban Bakaran, tetapi tetap tidak selamat.
  • Kita juga tidak akan selamat bila kita menghakimi orang yang lebih benar daripada kita, karena kita merasa lebih baik dari yang lain padahal kita lebih buruk dari mereka.

Alkitab berkata dalam kitab Roma, “Siapakah kita, bisa menghakimi orang lain?”

  • Artinya siapakah kita sampai kita berani berkata orang ini bersalah?
  • Peganglah “Tanduk Keselamatan dan Perlindunganmu” setiap hari, bukan ketika nyawamu dalam bahaya saja, tetapi untuk menjaga keselamatanmu.

2:33 Demikianlah darah mereka akan ditanggungkan kepada Yoab dan keturunannya untuk selama-lamanya, tetapi Daud dan keturunannya dan keluarganya dan takhtanya akan mendapat selamat dari pada TUHAN sampai selama-lamanya.”

Jangan pernah merasa dirimu paling benar melebihi orang lain, karena kebenaran yang hakiki hanya milik Tuhan.

Karenanya kalau kita selalu “merasa diri kita benar” dan orang lain yang salah, berarti kita menjadikan diri kita sebagai tuhan dan orang lain hamba kita.

  • Oleh sebab itu jangan pernah menganggap diri kita yang paling benar, karena Tuhan adalah kebenaran yang hakiki, maka hidup kita pasti diubah Tuhan.
  • Benarkah kita sudah menjadikan Tuhan, Gunung Batu kita?
  • Benarkah kita sudah menjadikan Tuhan, Benteng Pertahanan kita?
  • Benarkah kita sudah menjadikan Tuhan, Perisai kita?
  • Benarkah kita sudah menjadikan Tuhan sebagai Tanduk Keselamatan dan Perlindungan kita?

V. TUHAN ADALAH “MENARA YANG TINGGI

Benarkah kita sudah menjadikan Tuhan sebagai Menara yang Tinggi bagi kita?

2 Samuel 22 : 3

22:3 Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku, tempat pelarianku, juruselamatku; Engkau menyelamatkan aku dari kekerasan.

2 Samuel 22 : 3

22:3 The God of my rock; in him will I trust: he is my shield, and the horn of my salvation, my high tower, and my refuge, my saviour; thou savest me from violence.

Kota Benteng atau Menara Tinggi atau “High Tower” dalam bahasa Inggris nya, masalahnya benarkah kita sudah menjadikan Tuhan sebagai Kota Benteng kita?

  • Untuk melihat pemandangan alam yang indah, akan lebih indah jika saudara melihatnya dari tempat tinggi, sebab bila dari tempat datar, kita melihat pemandangan tersebut biasa-biasa saja.
  • Jika kita mau melihat apa yang Tuhan berikan itu baik, maka kita harus naik ke tempat tinggi dan jadikan Tuhan Menara yang Tinggi dalam hidup kita.
  • Meskipun saudara dikejar oleh masalah, dikejar oleh hutang dan dikejar oleh sakit-penyakit, naiklah ke tempat tinggi dan saudara akan melihat semuanya baik, supaya saudara tidak akan bersungut-sungut lagi.

Begitu engkau naik ke Tempat Tinggi, engkau akan berkata “Semua baik” karena engkau akan melihat dengan cara Tuhan melihat yaitu masa depan yang penuh pengharapan dan semua yang baik yang akan Tuhan berikan bagimu.

  • Saat kita mengalami masalah, kita naik ke tempat tinggi maka kita akan bisa berkata, “Tuhan, terima kasih karena semuanya baik”.
  • Selama tidak naik ke Tempat Tinggi, kita tidak bisa berkata “semua baik”.
  • Masalah yang kita hadapi akan menjadi suatu tekanan dalam hidup kita jika melihatnya dari tempat datar.

Tetapi bila kita naik ke Menara Tuhan, barulah kita melihat masalah kita tidak berarti dan kita akan melihat betapa indahnya yang Tuhan rancangkan bagi kita.

  • Tidak ada yang sulit ketika kita naik ketempat tinggi bersama dengan Tuhan.
  • Ketika kita naik ke puncak Tuhan, engkau akan melihat semuanya baik.
  • Sehingga engkau bisa bernyanyi, “Semua baik, semua baik, apa yang t’lah Kau perbuat di dalam hidupku”.

Jangan sampai kita bernyanyi “semua baik”, tetapi pada kenyataannya yang keluar dari mulut kita hanyalah persungutan dan persungutan silih berganti.

  • Selama di dalam Gereja kita bisa berkata semua baik, tetapi di luar Gereja kita berkata, “masalahku luar biasa rumitnya dan buruk sekali”.
  • Di dalam Gereja engkau naik ke tempat tinggi, tetapi setelah di luar Gereja engkau turun lagi ke tempat datar.
  • Di dalam Gereja engkau dapat firman dan engkau kuat, tetapi di luar Gereja engkau memandang terus kepada masalahmu yang semakin besar.

Inilah yang menyebabkan orang Kristen memiliki “iman yang naik-turun” karena dia sendiri yang membuat hidupnya naik turun, sebentar naik ke Menara Tuhan, sebentar turun dari Menara Tuhan.

  • Inikah kekristenan yang saudara pikir benar?
  • Mengapa saudara betah dan begitu menikmati iman yang sebentar naik dan sebentar turun?
  • Ingatlah selalu, hidup kita harus senantiasa diatas, berada ditempat tinggi bersama dengan Tuhan.

Seharusnya kita bertekad dan percaya saja bahwa “semuanya baik”, karena Tuhan sedang mengerjakan segala sesuatu yang indah untuk saudara dan saya.

Jadikanlah Tuhan sebagai Gunung Batu kita, Benteng kita, Perisai kita, Tanduk Keselamatan dan Perlindungan kita, serta Menara hidup kita.

Kalau kita sampai ke tingkat ini, kita pasti bisa berkata “Semua baik”.

AMIN.

BERI KEMULIAAN BAGI TUHAN.

TUHAN YESUS MEMBERKATI

GPPK – CHOSEN GENERATION

EDITOR : HAMBA-NYA ROBERT T. BALAY

Satu respons untuk “TUHAN TEMPAT PERLINDUNGAN YANG TEGUH – 18 FEBRUARI 2020

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s