Warta 13 Januari 2019 TIDAK ADA KEMULIAAN TANPA SALIB

TIDAK ADA KEMULIAAN TANPA SALIB

Ketika kita percaya kepada Tuhan juga berarti kita mempercayakan diri kepada Tuhan Yesus. Jika dahulu penguasanya adalah diri kita sendiri maka sekarang penguasanya adalah Tuhan Yesus sebagai Majikan Agung. Tuhan menjadi jalan menuju keselamatan dan nama jalanNya adalah kebenaran, puncaknya adalah perjumpaan dengan Bapa untuk dipermuliakan (Yohanes 14:6, Roma 8:17).

Ketika kita masuk dalam jalanNya, kitapun wajib berjalan bersama Dia. Dan ketika berjalan bersama Dia, kita wajib  berjalan dengan salibNya. Puncaknya adalah kematian kita dari diri sendiri (ego) sehingga Allah dapat berkuasa penuh (Galatia 2:20). Oleh sebab itu mengikut Tuhan bukan sekedar percaya melainkan mempercayakan diri padaNya atau totalitas penuh. Tanpa totalitas bagaimana kita dapat taat dan tanpa totalitas bagaimana kita dapat setia.

Saudaraku perjalanan bersama Tuhan layaknya membangun hubungan dengan pasangan hidup. Semakin total maka semakin setia, dan semakin total semakin bertahan hubungan itu. Tanpa totalitas apa yang dapat diharapkan. Oleh sebab itu Tuhan senantiasa berkata, kita tidak mungkin mengabdi pada dua tuan, karena tidak ada kesetiaan dibaliknya. Kita dapat setia pada yang satu dan menolak yang lain. Puncak dari suatu hubungan adalah pelaminan dan bagaimana seseorang bisa naik kepelainan tanpa kesetiaan? Bagaimana seseorang bisa dibawa pada Bapa disorga jika dia masih mendua hati?

Permasalahannya banyak kristen dewasa ini percaya kepada Tuhan tapi tidak menyerahkan diri total, mereka masih saja menyisahkan “aku” dalam mengiring Tuhan. Jika demikian bagaimana dapat mengikut Tuhan, Jika “aku” masih bertahta, karena “aku” adalah penghalang penguasaan “Dia (Yesus)”  dalam diri kita.

            Tuhan senantiasa mengarahkan seseorang didalam jalan kebenaran, dan cara mengarahkannya hanya dengan “kuk”atau yang kita kenal dengan nama salib. Jadi ketika orang percaya kepada Dia, orang tersebut mulai diberi salib dipundaknya (Matius 11:28-29). Tujuannya bukan untuk menyiksa melainkan untuk dapat diarahkan kepuncak kemuliaan karena manusia cenderung memberontak dan tidak setia. Salib yang kita terima sebagai orang percaya demi mematikan “aku” yang berkuasa. Dan puncaknya adalah ketika kita naik keatas salib dan mati bersama dengan Dia dengan demikian baru kita bisa dipermuliakan bersama Dia.

Jadi saudaraku iman percaya menuntun kita pada keintiman dengan Yesus, dan keintiman akan menuntun kita pada salib. Dan salib menuntun kita pada kematian diri sendiri. Dan kematian pada diri sendiri menuntun kita pada kemuliaan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s